Rabu - 13 Dec 2017
SELAMAT DATANG DI WEBSITE YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM AL-LAYYINAH
Sukses Mendidik Anak

Sukses Mendidik Anak
Oleh : Ummi Hj. Zuhriyah, MA

Islam sebagai agama mayoritas bangsa Indonesia diyakini memiliki sumber referensi aspek kehidupan manusia, dari mulai aturan paling terkecil (mau makan hingga masuk WC). Islam juga ikut interfensi dan mengatur tentang bagaimana fungsi dan peranan ayah, bunda dan anak dalam membentuk keluarga yang damai (sakinah).

Ada ayah sebagai kepala keluarga yang berperan sebagai pelindung dan pemelihara keluarga (QS. At-Tahrim: 6). Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Ada bunda yang berperan sebagai ummu madrasatil ȗlâ yakni pendidik pertama dalam keluarga dan pengganti kedudukan kepala keluarga (menjadi pelindung dan pemelihara; ciri istri shalihah) tatkala seorang suami tidak ada dirumah. Ada anak yang berperan sebagai penerus harapan orang tua menjadi anak yang shalih shalihah (QS. Al- Israa’: 23). Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.

Keluarga merupakan miniature peradabaan dari sebuah bangsa yang madani. Bangsa yang maju merupakan bentuk cerminan dari sebuah tatanan keluarga yang berbasis sorgawi, yakni keluarga yang dibangun atas dasar mawaddah dan mahligai rahmat. Bangsa yang maju tidak sekedar diukur oleh tingkat pencapaian ilmu pengetahuan, budaya dan teknologi mutakhir, tapi kemajuan sebuah bangsa diukur oleh tingkat kualitas moral (pendidikan).

Tiga langkah yang perlu diperhatikan orang tua dalam mendidik anak menuju kesucsesan dunia akhirat:

1. Perhatian Orang Tua Terhadap Lingkungan Anak

14 Abad yang silam sebelum para tokoh pendidikan berpikir tentang teori pendidikan, tokohnya para tokoh pendidikan kaliber dunia yakni Nabi Muhammad Saw. sudah mendengungkan lewat kata mutiaranya bahwa : “Setiap bayi yang lahir, terlahir dalam keadaan suci bersih (fitrah) sehingga lingkungan-nyalah (fa abawâhu) yang akan menjadikan dia yahudi atau nasroni atau penyembah api”.

Jika kata fitrah ini diartikan sebagai suci bersih sebagaimana dikutip oleh beberapa pendapat, maka setiap bayi yang terlahir mestinya tidak memiliki tanggung jawab untuk memikul sebagian karakter buruk dan baik orang tuanya tapi suci bersih dari catatan sejarah orang tuanya. Dan kata fa abawâhu jika diartikan secara kontekstual maka akan lebih relefan dan luas dengan arti lingkungan. Ini sebagaimana pengertian dari kata lingkungan yang berarti bahwa segala sesuatu selain diri kita maka disebut lingkungan, nah orang tua termasuk bagian dari lingkungan.

Mari kita menyelami sejarah Nabi Ibrahim as. dalam QS. al- Anbiyaa’: 48-73. Di sana akan temukan bagaimana kondisi umat manusia ketika itu, lingkungan masyarakat yang mempertuhankan sebongkah batu adalah bukti bagaimana dekadensi moral masyarakat Nabi Ibrahim as. hidup. Bahkan yang lebih mengherankan dalam sebuah catatan sejarah adalah Nabi Ibrahim as. tidak berdaya menyadarkan orang tuanya yang berprofesi sebagai pembuat patung untuk dijadikan sesembahan masyarakat ketika itu dan kejadian ini terekam oleh Allah tepat pada ayat yang ke 52-56 dari QS. al- Anbiyâ. Berbagai upaya dilakukan oleh beliau salah satunya adalah penghancuran terhadap patung-patung yang menjadi sesembahannya hingga pada klimaksnya orang-orang musyrik tersebut membakar Nabi Ibrahim as. diatas gunungan kayu bakar tapi Allah selamatkan beliau “Yâ nâru kȗnî bardan wasalâman ‘alâ Ibrâhîm ; Hai api, menjadi dinginlah dan keselamatanlah bagi Ibrahim” QS. Al- Anbiyâ : 69.

Tentang betapa kuatnya pengaruh lingkungan terhada perkembangan anak, Kekasih kita yang mulia Baginda Rasulullah juga mengatakan :“Al-jâr qobla addâr; Pilihlah lingkungan yang akan menjadi tetangga sebelum menentukan di mana akan mendesain bentuk bangunan rumah”.

Pesan inti dari hadits ini adalah betapa lingkungan atau tetangga, amat menentukan idealnya sebuah tatanan sistem keluarga dan masyarakat yang madani. Jangan harap kita bisa menemukan anak yang taat, santun, jujur, baik hati dan tidak sombong sementara ia hidup ditengah-tengah keluarga dan masyarakatnya krisis pendidikan agamanya.

Perhatikanlah pergaulan anak dengan siapa dia berteman, karena Nabi Saw. sudah mengingatkan dalam satu haditsnya :“Arrafîq qobla aththarîq ; Pilihlah teman dengan selektif sebelum menentukan tujuan bergaul”.

Mahasiswa atau pelajar bukan sebuah jaminan anak yang baik untuk dijadikan teman hidup, justru kebejadan moral banyak dipelopori oleh kaum terpelajar. Anak orang kaya maupun miskin juga bukan standar kualitas moral seseorang, karena tidak sedikit kasus-kasus kenakalan remaja tidak memandang terhadap status sosialnya. Sempatkan orang tua untuk mendampingi anaknya ketika menonton program televisi, karena dari media sekotak kaca itulah sebuah penjajahan budaya dan pemikiran sudah banyak mempengaruhi gaya hidup hedonis dan merusak aqidah. Anak-anak batita hingga para manula, lebih hafal dengan nama-nama artis dari pada nama-nama Nabi, sahabat Nabi beserta sejarah kehidupannya, na’udzubillah..

2. Perhatian Do’a Orang Tua Terhadap Anak

Doa merupakan bentuk amaliyah yang secara total melibatkan peran kehadiran hati. Do’a menjadi penghantar vertikal untuk menyambungkan upaya lahir (usaha fisik) dengan upaya bathin (usaha psikis) antara seorang hamba dengan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, keberhasilan atau kegagalan seseorang menunaikan satu rencana, tidak terlepas dari faktor eks (faktor yang tidak terduga yang akan mensukseskan ataupun menunda kesuksesan satu rencana) meskipun faktor internal menjadi hal terpenting dalam mengawali sebuah harapan.

Nah, disinilah peranan doa, bahwa doa memiliki porsi bergizi dan posisi urgen dalam proses “lobying” terbukanya pintu rahmat antara seorang hamba dengan Tuhannya, “Addu’â-u miftâhurrahmat; Do’a adalah kunci pembuka rahmat” (H.R. Ad-Dailami). Rasulullah bersabda :”Addu’â-u mukhkhul ‘ibâdah ; Doa merupakan pusaran inti dari sebuah aktifitas ibadah” (H.R. At-Turmudzi)

Harapan orang tua menjadikan anaknya shalih shalihah dan lebih baik dari dirinya adalah fitrah orang tua. Siang malam orang tua banting tulang peras keringat bermandikan peluh menghimpun uang untuk anaknya, adalah salah satu bentuk lahir betapa orang tua ingin memberikan pelayanan terbaik agar anaknya bisa sekolah lebih tinggi dan menyandang status sosial yang lebih mulia dari dirinya. Orang tua juga melakukan upaya maksimal untuk mengontrol pergaulan anaknya bahkan menyekolahkan anaknya di sebuah Lembaga Pendidikan Islam dengan harapan anaknya bisa mempelajari Islam lebih maksimal dalam lingkungan yang Islami dan menjadi anak yang sukses dunia akhirat yang kelak berbakti kepada kedua orang tuanya.

Betapa Nabi Ibrahim as dihadapan Allah sadar akan kelemahan dan kebodohannya mendidik anak di tengah-tengah kehidupan yang menjadikan sesembahan patung sebagai kultur masyarakat, sehingga beliau tidak pernah berhenti untuk mendoakan Nabi Isma’il as :“Rabbi hablî minashshâlihîn; Duhai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” QS. ash- Shâffât ayat 100. “Rabbij’alnî muqîmashshalâti wa min dzurriyyatî ; Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat”. QS. Ibrahim ayat 40. Inilah yang diajarkan oleh beliau sebuah doa yang sederhana untuk umat Nabi Muhammad Saw, beliau tidak sekedar mendoakan dirinya tapi untuk anak cucunya.

Disebutkan dalam sebuah hadits, kekasih kita Muhammad Saw. bersabda :“Du’âul wâlidi li waladihî kadu’âinnabî li ummatihi ; Doa orang tua terhadap anaknya, bagaikan doa Nabi untuk ummatnya”. (H.R. Ad-Dailami). Siapa yang berani menyangkal kesaktian doa para Nabi..??

Jika kedudukan dan kesaktian doa para Nabi untuk ummatnya disejajarkan dengan kekuatan doanya orang tua kepada anaknya, itu artinya bahwa rangkaian huruf yang tersusun dalam sebuah bahasa doa orang tua yang dipanjatkan secara tulus kepada Allah tentunya akan memiliki kekuatan luar biasa yang mampu meluncurkan pesan doa menembus lapisan dimensi kepada Rabbul ‘Izzati. Sungguh Allah amat pemalu untuk menolak permohonan hambanya yang telah menengadahkan tangan dan kepalanya. Dan sungguh Allah amat pencemburu terhadap hamba-Nya yang tidak memohon kepada-Nya.

Mendidik anak menjadi shalih shalihah di tengah kondisi zaman sekarang ini bukanlah persoalan mudah. Segala fasilitas produk modernisasi yang sulit dihindari, berimplikasi pada perubahan drastis dan nyaris menghilangkan ozon identitas muslim. Maraknya fasilitas hiburan, gencarnya suguhan-suguhan yang dimotori oleh multi media dan kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak, anak-anak dan remaja hingga manula sudah mulai bandel menyebrangi budaya westernisasi tanpa awas dan waspada.

Oleh karena itu, sampaikan dan titipkanlah kepada Allah keluhan dan harapan besar terhadap anaknya setiap hari minimal usai shalat fardlu. Pasrahkan harta dan keturunan kepada Allah yang jika datang hari itu maka semuanya tidak lagi berguna (QS. Asy- Syu’arâ’: 88-89).

3. Perhatian Orang Tua Terhadap Shalat Anak

Betapa Allah SWT amat memperhatikan dan menyayangi hamba-Nya melebihi perhatian dan kasih sayangnya seorang ibu terhadap buah hatinya yang tercinta. Banyak orang tua yang tidak memberikan ruang komunikasi yang intens dengan anaknya untuk saling berbagi dan mengadu. Berbeda dengan Allah yang telah memberikan sarana bincang-bincang dengan hamba-Nya paling tidak lima waktu dalam sehari semalam, yakni shalat.

Shalat merupakan sarana perjumpaan antara seorang hamba dengan Tuhan-nya. Segala persoalan kehidupan hingga kebutuhan manusia, disanalah bisa dikeluhkan dan dikonsultasikan lewat shalat, Subhaanallah…

Kekasih kita Nabi Muhammad Saw. memberikan info penting kepada umatnya bahwa: “Ashshalâtu mi’râjul mu’min; Shalat merupakan mi’rajnya seorang mukmin”. Mi’raj merupakan perjumpaan Nabi Muhammad Saw. dengan Kekasihnya yakni Allah SWT. ketika Nabi dilanda problem hebat. Kemudian lewat mi’rajlah Nabi menuntaskan segala keluhan dan kebutuhannya sekaligus bernostalgia keliling alam jagat semesta raya.

Itu artinya bahwa shalat yang dilakukan oleh seorang mukmin, merupakan bentuk lain dari mi’raj sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi. Siapa yang tidak merindukan perjumpaan dengan Sang Maha Kaya, Maha Perkasa, Maha Menolong dan Maha Memberi…??

Sayangnya fasilitas shalat yang Allah syari’atkan kepada hamba-Nya, tidak dimaknai sebagai fasilitas yang sebenarnya memanjakan dan membahagiakan pelaku shalat, tapi shalat justru menjadi beban, na’udzubillah…

Begitu pentingnya fungsi dan peranan shalat terhadap kesuksesan kehidupan, Nabi Ibrahim as selalu memperhatikan persoalan shalat (QS. Ibrahim: 37 dan 40). Allah SWT dalam Al Qur’an menginformasikan betapa dasyatnya peranan shalat terhadap perjalanan sejarah seseorang : “Sesungguhnya (amat) beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya” QS. Al Mu’minun: 1-2.

Perhatikan kata aflaha..! Kata tersebut memakai kalimah isim tafdhil yang berarti melebihkan makna aslinya dari asal kata falaha (beruntung). Jadi kata aflaha tidak cukup diartikan sebagai keberuntungan saja, tapi kata aflaha memiliki arti yang cukup luar biasa yakni keberhasilan, kesukesan hidup, kejayaan karir, ketenangan hati, kedamaian rumah tangga, keindahan akhlak dan kebahagiaan hidup dunia akhirat. Untuk siapa fasillitas kemuliaan aflaha ini..?? Yakni orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.

Jika sekiranya orang tua mendidik anaknya tentang bagaimana pentingnya fungsi dan efek shalat sejak dini disertai dengan peneladanan orang tua, niscaya tidak ada dan tidak akan pernah ada orang tua yang stres gara-gara ulah kenakalan anaknya. Tidak akan ditemukan anak yang membangkang dan berani membentak perintah seorang ibu, karena anak sudah tercerahkan dengan terbimbing dan terbiasa berjumpa dengan Kekasihnya (Allah) lewat shalat.

Perhatian orang tua terhadap anak tentang shalat mestinya mendapat peringkat utama, karena dari shalatlah segala persoalan hidup akan mudah diselesaikan dan ditolong jika seluruh penghuni rumahnya shalat (QS. Al Baqarah: 45). “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (QS. Al Baqarah: 45).

Sungguh lebih ringan bertakbir mengangkat kedua tangan untuk shalat dan memperhatikan shalatnya anak-anak dari pada mengerjakan pekerjaan dunia yang tiada habisnya. Karena memang shalat bukanlah sekedar pekerjaan fisik, tapi psikis dan keterlibatan peran hati yang tidak sekedar dipahami sebagai bacaan atau gerakan dan kewajiban belaka oleh umat Islam. Tapi shalat menjadi suatu kebutuhan, “kebutuhan” dan “mi’raj” sarana perjumpaan hamba dengan Sang Kekasihnya Allah SWT, sehingga ini mestinya menjadi kebutuhan pokok jasmani dan rohani manusia.

Melihat sedemikian urgentnya implikasi shalat terhadap benteng pendidikan anak, sudah menjadi semestinya orang tua sadar melakukan “Gerakan Orang Tua Peduli Shalat” dengan memastikan penghuni keluarganya melaksanakan shalat fardlu sejak dini dengan peneladanan dari orang tua.

Semoga Allah senantiasa membimbing para orang tua kepada jalan yang lurus dan pada saat itu juga Allah akan mengkaruniakan anak-anak shalih shalihah kepada orang tua, sebagaimana Allah mengkaruniakan keturunan yang shalih kepada Ibrahim as. Sekarang, bagaimanakah perhatian kita terhadap anak-anak kita, sudahkah hal tersebut kita lakukan?



Posted By Admin     30-Jun-13
Di Baca 1297
 
 
Menu Utama
Follow Us
Portal Sekolah
Counter Pengunjung

Total pengunjung

209656

Jumlah Pengunjung

Yang Online Sekarang: 1

Hari ini : 74


Informasi Guru